Oleh-oleh dari perjalananku yang ingin kubagi

Aku baru sampai di kotaku
Satu jam lebih perjalanan ditempuh menggunakan kereta
Sialnya, kereta malam tadi membuatku harus berdiri dalam sesak, pengap, dan merasa terjebak!

Hhhhhh

Merasa terjebak itu tidak enak
Apalagi ketika pikiranku sendiri membenamkanku dalam perasaan terjebak
Semacam anergi
Menganggap tidak bisa melakukan apa-apa
Dan meyakini itu seburuk-buruknya keadaan

Tak henti-henti aku mengutuk perjalanan dengan jebakan itu.
Padahal perjalanan itulah yang perlu kutempuh untuk mengantarkanku ke tujuan.
Padahal perjalanan itulah pula yang memberikan pembelajaran bagiku

Bahwasanya berada di keadaan terjebak bukan merupakan seburuk-buruknya keadaan selama kita tahu alasan dan tujuannya

Whwhw ini berarti umpatan sialnya tadi, dapat kuralat dengan syukurku.

Tidak langsung pulang, aku memilih untuk duduk di sudut gang
Aku perlu menenangkan diriku sembari menikmati keramaian
Di depanku bersliweran penumpang dan driver ojek onlinenya
Mereka seperti dua orang yang saling mencari dan menemukan
Aku sih tetap memilih untuk terus duduk dulu menyatu dengan sekitar

Omong-omong, ojek onlineku, akhirnya kutemukan juga di waktu aku merasa sudah harus pulang
Kami ternyata seumuran. Lebih muda sedikit dariku, tapi keramahannya mengalahkanku 
Sepanjang perjalanan kami bertukar cerita, ia memulai percakapan, aku menanggapi pertanyaan-pertanyaan darinya
Sebelum belok di perempatan, ia menyatakan bahwa dirinya sedang merasa terjebak.

Aih, aih!

Kurasa ini juga alasan aku kedapatan situasi terjebak di kereta tadi
Kami berpisah dengan isian dari cerita yang saling menginspirasi

Kemudian aku jadi teringat, saat aku duduk terdiam tadi
Disampingku ada seorang laki-laki
Kami berdua terdiam dan sama-sama menatap jalanan
Dipikir-pikir dan dirasa-rasa aku senasib dengannya

Namun, baik aku maupun dia tidak ada yang memulai pembicaraan
Mungkin aku yang akan menyapanya duluan
Mungkin juga tidak

Sampai kemudian aku beranjak pergi dan memilih pulang, aku tidak tahu sedikitpun mengenainya, tidak ada cerita yang bertukar di antara kami
Walau bagaimanapun, ia telah memenuhiku dengan diamnya
Mungkin sedari awal, mendapatkan ceritaku bukanlah takdirnya
Pun mendapatkan ceritanya bukanlah takdirku

Eh!

Tunggu sebentar!

Ini bukan perkara takdir yang terbatasi,  melainkan ini tentang kehadirannya yang memberikanku alasan untuk menuliskan ini.

Aku menawarkan apa sebenarnya?

 

“Kamu lagi suka baca apa akhir akhir ini?”

“Tidak ada, kenapa memangnya?”

“Membacalah. Membaca buku itu seru”

“Buku apa misalnya?”

“Buku bacaan apapun bisa kaubaca. Kau mau meminjam buku yang kumiliki? Atau pinjam koleksi buku di perpustakaan. Atau kau bisa pergi ke toko buku dan memilih buku yang kausukai”

“Dengan membaca aku mendapat apa?” Aku ingin menemukan alasan”

“Dengan tidak membaca apa yang kamu sudah dapatkan? Berarti dengan membaca kamu bisa dapat sebaliknya. Sesuatu yang baru. Sesuatu yang ingin kamu temukan bisa jadi ditemukan saat kamu sedang melakukannya.”

“Dengan membaca kamu mendapatkan apa?”

“Bahan untuk ditulis. Bahan untuk diperbincangkan. Isi pikiran. Pemahaman baru. Keinginan untuk membaca hal lainnya, dan…”

“Membuatmu lebih baik?”

“Iya, salah satunya. Bahkan dengan membaca suatu cerita aku dapat terbiasa mengatur diriku ketika alurnya naik turun dan menerima saat ceritanya telah selesai.”

“Kamu bisa meminjamkan satu bukumu padaku? Yang sudah habis kamu baca saja.”




Tiba-tiba aku tersadar,

Banyak buku yang belum selesai kubaca.

Ada buku yang tak ingin kupinjamkan.

Waktu, tempat, dan segala hal yang dapat membuat berbeda; maklumilah.

Dari tadi hingga semalaman ini

Kita berdua beradu siapa yang paling tepat dalam melihat bentuk bulan

“Bulan sabit!”

“Bulan sepotong!”

“Sabit”

“Sepotong”

“Saaaaaaaaaaaabit”

“Sepotoooooooooong”

Terusssssssss sajaaaaaaaaaaa begituuuuuuu

Perlahan malam mulai menjadi pagi

Kita berdua makin beradu, tambah sengit malahan, padahal sebentar lagi bulan pulang ke peraduan

Kau ulang-ulang bilang itu bulan sabit

Aku jelas-jelas tak mau kalah bilang itu bulan sepotong

Ah, sebentar lagi sudah menuju pagi

Bulan hilang sekarang, digantikan kehadiran malaikat yang datang dengan semburat mentari

Kita berdua masih merasa beradu, merasa paling tahu bagaimana bentuk bulan malam tadi

Tiba-tiba malaikat datang menghampiriku, Ia bilang ia pun menghampiri kamu. Ia jengah melihat kita beradu katanya. Padahal karena perkara melihat kita jadi beradu.

Aku yakin baik kepadaku maupun kepadamu, ia mengatakan hal yang sama. Buktinya kita tersadar dan berhenti beradu. Tidak lagi bilang sabit-sabit-sabit, lalu balas sepotong-sepotong-sepotong.

Malaikat kemudian pergi, meninggalkan kita berdua yang terisi hangatnya mentari.

.

.

.

.

.

.

.

Psssst, kuberitahu ini yang dikatakannya padaku.

Sayang, cukup sudah beradunya. Tidak ada yang benar dari kalian. Pun tidak ada yang salah di antara kalian. Ketahuilah, sampai kapanpun bulan itu bulat penuh. Ada pun terlihat berbeda, yang membedakan adalah tempat kalian melihatnya. Di tempatmu terlihat sepotong, ditempatnya terlihat sabit. 

Ya, kuyakin itu juga lah yang dikatakannya kepadamu. Dengan mengganti kalimat ujungnya

………………….Di tempatmu terlihat sabit, ditempatnya terlihat sepotong. 

22:50

Kukira langit slalu menerima bulan yang datang dalam kondisi apapun.

Lalu apa kamu berhak menyalahkan bulan yang terlihat sabit, sepotong, dan mencembung? Bahkan kadang-kadang ia tak bisa menampilkan dirinya secara bulat utuh.

Terkecuali yang kau puja hanyalah purnamanya ia.
Padahal ia tetap ada saat kaukira ia purna.